Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi

Kamis , 9 Apr 2026 | 21:11:01
by

SIGAP88.id – Profesi marbot masjid memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan rumah ibadah.

Peran ini telah ada sejak masa Rasulullah SAW, sebagaimana dicontohkan oleh sosok-sosok teladan yang kisahnya terekam dalam berbagai kitab hadis utama sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam.

Salah satu figur yang menonjol adalah Ummu Mahjan, seorang perempuan yang hidup pada masa Nabi Muhammad SAW, dikenal karena pengabdiannya yang tulus.

Kisah ini, seperti dilansir dari Cahaya, banyak ditemukan dalam kitab hadis terkemuka seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan Ibnu Majah.

Diriwayatkan bahwa pada era Nabi Muhammad SAW, ada seorang wanita yang secara rutin membersihkan Masjid Nabawi.

Ummu Mahjan dikenal sebagai pribadi yang tekun menyapu dan menjaga kebersihan masjid setiap hari, tanpa kenal lelah.

Meskipun usianya telah lanjut, ia tetap konsisten menjalankan tugasnya demi kemaslahatan umat.

Pengabdiannya ini menegaskan bahwa menjaga kebersihan masjid adalah bagian integral dari ibadah yang sangat dimuliakan.

Masjid pada masa Rasulullah tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai pusat aktivitas umat Islam, termasuk dalam urusan pemerintahan dan sosial.

Oleh karena itu, peran marbot sangat strategis dalam memastikan kenyamanan dan kekhusyukan beribadah.

Ummu Mahjan melaksanakan tugas sederhananya sebagai penyapu dengan ketulusan hati di tempat yang paling dicintai Allah, sehingga mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah SAW.

Penghormatan Rasulullah SAW kepada Ummu Mahjan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menunjukkan perhatian yang besar terhadap perempuan pembersih masjid tersebut. Berikut adalah kutipan hadisnya:

َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ- قَال: فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi). Nabi saw, menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.” “Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi saw, kepada sahabatnya. Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang. “Tunjukkan aku makamnya” Pinta Rasulullah saw, Merekapun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau mensholatkannya” (Bukhari Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa Rasulullah SAW sangat menghargai peran Ummu Mahjan. Bahkan, beliau tetap menyempatkan diri untuk menyalatkan jenazahnya meski telah dimakamkan.

Setelah menukil hadis tersebut, Abdullah bin Sholih Al-Fauzan menjelaskan dalam kitabnya: ففي هذا دليل على فضل تنظيف المسجد، لأن صلاة النبي صلى الله عليه وسلم على قبر من يكنس المسجد دليل على تعظيم عمله

“Hadis ini dalil akan utamanya pekerjaan membersihkan masjid. Karena shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, atas kuburan orang yang menyapu masjid tersebut, bukti bahwa perbuatan ini adalah amalan yang luhur.”

Penjelasan ini menegaskan bahwa menjaga kebersihan masjid merupakan amal yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.

Pesan dari Kisah Ummu Mahjan Kisah Ummu Mahjan juga mencerminkan upaya Rasulullah SAW dalam menghapus diskriminasi sosial.

Sosok yang kerap dipandang sederhana justru dimuliakan karena keimanan dan pengabdiannya.

Dedikasi Ummu Mahjan menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh ketakwaan dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Peran marbot masjid, baik laki-laki maupun perempuan, menjadi bagian penting dalam menjaga kehormatan rumah Allah.

Kisah ini sekaligus menjadi pelajaran agar umat Islam menghargai dan memuliakan orang-orang yang berkhidmat di masjid. Setiap amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapat balasan kemuliaan dari Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Biografi Singkat Imam Muhammad Asy-Syafi’i

Latest from Sejarah

Biografi Singkat Imam Muhammad Asy-Syafi’i

SIGAP88 – Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muththalibi al-Qurasyi (bahasa Arab: أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعيّ المطَّلِبيّ القرشيّ‎) atau singkatnya Imam
Go toTop